Jejak masa lalu

Sejarah Solo: Dari Desa Sala ke Surakarta

Perjalanan Surakarta tidak dapat dilepaskan dari Kerajaan Mataram, perubahan politik Jawa pada abad ke-18, dan masyarakat yang membangun kota dari masa ke masa.

Asal-usul nama Solo dan Surakarta

Solo adalah nama yang akrab digunakan untuk Kota Surakarta. Dalam kisah sejarah setempat, nama Sala merujuk pada desa yang menjadi lokasi pusat kerajaan baru. Seiring waktu, penyebutan Solo berkembang sebagai nama populer kota ini, sementara Surakarta menjadi nama administratifnya.

1745: pusat kerajaan berpindah

Kerusakan Keraton Kartasura setelah pergolakan yang dikenal sebagai Geger Pacinan mendorong Pakubuwono II memindahkan pusat kerajaan ke Desa Sala. Pemerintah Kota Surakarta menempatkan peristiwa perpindahan tersebut pada tahun 1745, yang lazim digunakan sebagai tonggak berdirinya kota. Beberapa catatan sejarah membedakan tahap pembangunan keraton yang dimulai lebih awal dengan proses perpindahan pusat kekuasaan.

Kasunanan dan Mangkunegaran

Perjanjian Giyanti pada 1755 menjadi salah satu titik penting perubahan politik Mataram. Kemudian Perjanjian Salatiga pada 1757 berkaitan dengan berdirinya Kadipaten Mangkunegaran. Dua lingkungan istana, Kasunanan dan Mangkunegaran, meninggalkan jejak budaya serta tata ruang yang masih dapat dikenali di Surakarta.

Kota perdagangan dan kebudayaan

Dalam perkembangannya, Solo menjadi tempat bertemunya aktivitas keraton, perdagangan, pendidikan, dan kehidupan kampung. Tradisi batik tumbuh di kawasan seperti Laweyan dan Kauman; pasar serta jalur perdagangan mempertemukan penduduk dari latar yang beragam.

Warisan yang masih terlihat

  • Keraton Surakarta Hadiningrat: pusat sejarah Kasunanan dan berbagai tradisi keraton.
  • Pura Mangkunegaran: salah satu pusat penting warisan seni dan arsitektur Jawa.
  • Kampung Batik: jejak perajin, perdagangan, dan perkembangan motif batik.
  • Pasar tradisional: bagian dari kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat Solo.

Menelusuri sejarah Solo berarti melihat hubungan antara perubahan kekuasaan dan kehidupan warga biasa. Bangunan bersejarah penting, tetapi kisah kota juga tersimpan dalam gang, pasar, bahasa, dan keluarga yang meneruskan tradisi.